News Details
  • 6 September 2019

Budidaya Ikan Lele Lebih Mudah dengan Metode Red Water System (RWS)

Malang – Dari sekian banyak metode pembudidayaan ikan lele, Red Water System ( RWS ) menjadi salah satu yang banyak diminati oleh para pembudidaya ikan khususnya ikan lele. Karena selain mudah, ikan lele yang di budidaya bisa lebih sehat dan berkualitas saat panen tiba. Pada budidaya ikan lele dengan menggunakan RWS, bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces menjadi pemeran utama dalam proses pembesaran benih ikan lele tanpa perlu untuk menguras / mengganti air dalam kolam hingga panen.

Proses pertumbuhan bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces tersebut tidak hanya dari pemberian bahan-bahan eksternal pemicu tumbuhnya bakteri tersebut, tetapi juga memanfaatkan endapan sisa pangan dan kotoran ikan lele. Endapan sisa pangan dan kotoran yang biasanya menjadi momok bagi pembudidaya karena menjadi sumber penyakit pada ikan lele, pada motode RWS akan dimanfaatkan sebagai pakan utama untuk kedua bakteri tersebut, sehingga endapan tersebut akan terurai dan menjadi zat yang tidak berbahaya untuk ikan lele.

Metode RWS ini sangat banyak diminati karena proses perawatan yang minim dan tidak perlu menggunakan banyak air sehingga sangat cocok untuk orang yang berbudidaya ikan lele sebagai pekerjaan sampingan. Selain itu, penggunaan metode RWS dapat menjaga kualitas air tetap baik karena tidak adanya campuran dari endapan sisa pangan atau kotoran ikan. Selain itu, metode RWS juga dapat meningkatkan kuantitas ikan lele dengan tebar benih padat hingga 300 ekor/m3 tanpa Aerator dan 500 ekor/m3 dengan Aerator.

Untuk membuat kolam dengan metode RWS, diperlukan bahan-bahan yang menjadi pemicu tumbuhnya bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces , yaitu :
• 18 liter air bersih.
• 4 botol yakult.
• 2 butir ragi tape.
• 1 liter molasses/ tetes tebu. Jika tidak ada bisa menggunakan gula merah sebagai pengganti.
• 1 butir air kelapa murni dari jenis kelapa yang sudah tua.
• 0,5 kg dedak halus.

Setelah semua bahan di atas siap, langkah selanjutnya adalah mengolah semua bahan tersebut dengan cara :
• Memasukkan 18 air bersih tersebut pada wadah bersih
• 2 butir rage tapi yang sudah disiapkan ditumbuk hingga halus
• Tuang 4 botol yakult, ragi tepe yang sudah dihaluskan, 1 liter molasses/ tetes tebu/gula merah, air kelapa murni dan dedak halus ke dalam wadah yang sudah berisi air bersih, aduk hingga semua bahan tercampur rata.
• Tutup wadah tersebut dengan rapat selama 6-7 hari agar terjadi proses fermentasi yang sempurna. Apabila proses fermentasi berhasil, air akan berubah menjadi warna coklat dan berbau alkohol.

Setelah selesai melakukan fermentasi, kolam ikan diberi tetesan fermentasi tersebut dengan takaran 100 ml /m3 kolam atau setara dengan setengah botol air mineral ukuran kecil. Jangka waktu pemberian tetesan fermentasi tersebut adalah setiap 24 jam hingga masa panen tiba. Untuk menghindari sisa kotoran ikan yang tidak diurai oleh bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces di dalam kolam, letakkan arang pada pinggir dinding-dinding kolam dengan takaran 1 kg /m3 yang berfungsi untuk menyerap sisa kotoran tersebut.
Tertarik dengan budidaya ikan lele menggunakan metode Red Water System ( RWS ) ? KTG sebagai produsen Geomembrane juga menyediakan kolam bundar dengan berbagai macam spesifikasi yang bisa di atur sesuai kebutuhan dan luas lahan yang tersedia. Dengan menggabungkan metode RWS dan penggunaan Geomembrane, maka hasil produksi ikan akan semakin bertambah dan perawatan kolam akan sangat mudah dan awet karena Geomembrane dapat digunakan hingga 10 tahun pemakaian.

Referensi :

https://kabartani.com

Berita

Terbaru

News

Hasilkan Garam Kualitas Tinggi Dengan Tunnel Garam “Tunnel 3”

  • 27 Maret 2020

Kebumen – Industri garam menjadi komoditi unggulan di Indonesia. Dengan luasnya garis pantai di ...

Baca Selengkapnya
News

Mulsa Topi Gunung, Favorit Petani Garut

  • 14 Januari 2020

Garut - Di zaman modern saat ini, penggunaan mulsa sudah seperti barang wajib pada dunia pertanian ...

Baca Selengkapnya
News

Mulsa Topi Gunung, Banyak Jenis dan Manfaatnya

  • 28 Oktober 2019

Malang - Mulsa merupakan salah satu teknologi pertanian yang biasanya digunakan untuk menutup bedengan. ...

Baca Selengkapnya

Komentar

Berita